Klasifikasi Ikan Nilem


good

isyelieneducation

Ketersediaan benih sebagai unsur yang mutlak dalam budidaya. Penyediaan benih tidak hanya dalam jumlah yang cukup dan terus-menerus, tetapi diperlukan mutu yang baik serta tepat sasaran.
Sejalan dengan perkembangan teknologi diberbagai bidang ilmu termasuk bidang perikanan, budidaya ikan sedang mengarah ke berbagai budidaya intensif. Intensifikasi di bidang perikanan menuntut adanya ketersediaan benih dalam jumlah dan mutu yang

Lihat pos aslinya 634 kata lagi

By alsaprudin


alsaprudin.wordpress.com

Nyetnyetanyet's Blog

DEFINISI-DEFINISI PENYULUHAN Definisi Penyuluhan Secara Umum Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu social yang mempelajari system dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Setiana. L. 2005). Penyuluhan dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan untuk orang dewasa. Dalam bukunya A.W. van den Ban dkk. (1999) dituliskan bahwa penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Definisi Penyuluhan Berdasarkan Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian , Perikanan dan Kehutanan ( SP3K) Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dalam mengakses informasi informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Definisi Penyuluhan menurut Ibrahim, et.al, 2003:1-2…

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

By alsaprudin

10 Bendungan Terbesar Di Indonesia


Berikut ini 10 Bendungan Terbesar di Indonesia

1. Bendungan Sigura-gura di Sumatera Utara

2. Bendungan Batutegi di Lampung

3. Bendungan Jatiluhur (Ir. H. Juanda) di Jawa Barat

4. Bendungan Gajah mungkur (Wonogiri) di Jawa Tengah

5. Bendungan Karangkates (Ir. Soetami) di Jawa Timur

6. Bendungan Wonorejo di Jawa Timur

7. Bendungan Riam Kanan di Kalimantan Selatan

8. Bendungan Batujai di Nusa Tenggara Barat

9. Bendungan Tilong di Nusa Tenggara Timur

10. Bendungan Bili-Bili di Sulawesi Selatan

By alsaprudin

Teknik Pembuatan Kolam Ikan


Kolam merupakan salah satu sarana budidaya ikan yang penting untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan khususnya perikanan darat. Kolam adalah media atau wadah air yang digunakan untuk ikan hidup, sehingga diusahakan semirip mungkin dengan kondisi

alami  lingkungan ikan di alam bebas, sehingga dengan kata lain diharapkan kita dapat memanipulasi lingkungan kolam sehingga ikan betah dan mau berkembang dengan baik di kolam. Berbagai jenis dan bentuk kolam sudah dikembangkan berdasarkan aspek budidaya dan ekonomi, tinggal kita sebagai praktisi perikanan memilih kira-kira jenis dan bentuk kolam yang mana yang cocok untuk kita.

 

I. Jenis-Jenis Kolam

1. Kolam Tanah : yaitu kolam yang dibuat secara tradisional dengan cara menggali tanah dengan kedalamam tertentu dan tanah galian tersebut dibuatkan tanggul keliling sebagai penahan air. Bentuk kolam ini tergantung dari ketersediaan lokasi lahan, bisa segiempat, persegi panjang, lingkaran, ataupun trapesium.

2. Kolam Beton/semen :  yaitu kolam yang dibuat menggunakan campuran pasir,semen,batu dan rangka besi. Kolam jenis ini relatif kuat dan tahan bocor, tetapi biaya pembuatannya mahal.

3. Kolam Terpal : yaitu kolam yang dibuat menggunakan terpal dengan rangka kayu dan papan. Kolam jenis ini dirasakan paling efisien dan murah dibandingkan dengan dua jenis kolam lainnya.

II. Cara Pembuatan

A. Kolam Tanah

1. Tentukan rencana lokasi kolam

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m, buatlah batas-batasnya.

3.  Mulailah menggali sampai kedalaman 75cm, tanah bagian atas yang subur disimpan dulu untuk dikembalikan lagi ke dalam kolam kalau kolam sudah jadi, tanah hasil galian selanjutnya  ditimbun dan disusun di sepanjang batas kolam yang sudah dibuat sebelumnya, kalau ada sisa-sia kayu atau akar sebaiknya dibuang  sehingga tanggul tidak mudah bocor .

4. Tanam pralon berbentuk L di salahsatu sudut tanggul untuk saluran   pembuangan, dan disudut yang lain sebagai saluran   pemasukan.

5. Buatlah jaring seukuran kolam untuk mempermudah pemanenan ikan nantinya.

 

B.  Kolam Beton

1.Tentukan rencana lokasi kolam

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m, buatlah batas-batasnya.

3. Mulailah membuat pondasi kolam dan kerangka besi untuk dinding kolam.

4. Buatlah papan mal pondasi dan  tanggul kolam untuk pengecoran dinding kolam dan pondasi, setelah itu lakukanlah pengecoran. Untuk dasar kolam biarkan berupa tanah.

5. Apabila ingin menghemat biaya, dinding kolam bisa juga menggunakan batu bata atau batako, akan tetapi dinding rawan retak.

6. Tanam pralon berbentuk L di salahsatu sudut tanggul untuk saluran pembuangan, dan disudut yang lain sebagai saluran pemasukan.

7. Buatlah parit ditengah kolam yang menghubungkan antara saluran pemasukan dan pembuangan untuk mempermudah pemanenan nantinya.

 

C.  Kolam Terpal

1.Tentukan rencana lokasi kolam

2. Tentukan rencana luas kolam, supaya kualitas air stabil dan pertumbuhan ikan optimal maka luas kolam minimal burukuran 2m x 3m dengan terpal 3m x 4m, lalu buatlah batas-batasnya.

3. Mulailah membuat  tiang kolam dengan kayu, jarak antar tiang 1m.

4. Buatlah dinding kolam dengan papan dan dipaku ke tiang-tiang yang sudah dipasang.

5. Ratakan dasar tanah sebelum terpal dimasukkan agar tidak ada benda-benda tajam yang dapat membuat terpal bocor.

6. Masukkan terpal, ikat atau paku tepi-tepi atasnya ke tiang-tiang kolam, lipat ujung-ujungnya.

7. Siapkan selang air untuk pemasukan dan pengeluaran air.

8. Supaya suhu air tida terlalu panas pada siang hari, sebaiknya buatkanlah penutup dari paranet atau kalau mau lebih murah meriah yaitu dari daun kelapa.

 

Sumber : http://penyuluhperikanan.com/index.php/budidaya/74-teknik-pembuatan-kolam-ikan

 

 

By alsaprudin

Cara Budidaya Dan Merawat Ikan Koi


 

 Cara Budidaya Dan Merawat Ikan Koi

Cara Budidaya Dan Merawat Ikan Koi

Ikan Koitermasuk ikan hias eksotis yang semakin banyak penggemarnya. Selain dipelihara sebagai hobi, Ikan koi juga bisa dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan. Tentu saja bagi mereka yang benar-benar serius menekuninya. Selain pesona warna dan lekukannya yang indah, keistimewaan lain dari koi adalah keelokan yang dipertontonkan tatkala menyembul dan melompat ke atas air . Sungguh sebuah pemandangan yang istimewa bagi yang hobi memeliharanya.

Asal Mula Ikan Koi:

Ikan koi berasal dari ikan mas. Ikan ini adalah ikan nasional Negara Jepang. Di Negara Jepang sendiri,koi diangap sebagai ikan dewa. Di Negara tersebut koi disebut kai yang artinya ikan berwarna. Banyak versi yang berkembang mengenai asal usul koi. Salah satunya berasal dari Persia, lalu dibawa ke Jepang oleh orang Cina melalui daratan Cina dan Korea. Koi dari Jepang pertama kali di eksport ke San Fransisco, Amerika Serikat (1938). Setelah itu berturut-turut dikirim ke Hawaii (1947), Canada(1949), dan Brazil(1953).

Sedangkan masuk ke Indonesia diperkirakan tahun 1981-1982 di bawa oleh Hany Moniaga, hobiis yang tinggal di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Ia kemudian mengembangkan peternakan koi yang diberi nama Leon dan Leonny. Koi pertama itu panjangnya 90-100 cm, berumur 50-75 tahun. Sejak itulah koi populer di Indonesia dan belakangan menjadi buruan hobiis hingga saat ini.

 

Ikan koi termasuk jenis ikan yang mudah dipelihara. Makanannya tidak selalu harus spesial karena termasuk binatang pemakan tumbuh-tumbuhan dan hewan ( omnivira). Pellet merupakan santapan utama, tapi saat ikan mengikuti kontes, Koi akan mendapat makanan tambahan dan doping khusus untuk menguatkan warna tubuhnya dalam masa karantina. Selain itu, sayur-sayuran seperti kangkung atau buah-buahan, misalnya jeruk, bisa diberikan pada koi.

Umur ikan koi bisa bertahan sampai puluhan tahun. Untuk memiliki ikan yang berasal dari perairan Eurasia and the middle east. Ini para penggemar dan calon penggemar dapat menyesuaikan diri antara keinginan dan kondisi saku. Tak selamanya harus mengeluarkan biaya yang mahal karena harganya yang bervariasi, tergantung dari ukuran dan jenis. Beberapa penjual mematok harga mulai dari Rp 50 ribu hingga mencapai Rp 8 Juta. Hebatnya, harga koi juara kontes dapat menembus ratusan juta rupiah.

Cara Memelihara dan Merawat Ikan Koi

Pemeliharaan koi dilakukan di kolam semen, kolam tanah, kolam taman. Pemeliharaan koi dalam aquarium tidak dianjurkan, Karena ikan tersebut membutuhkan areal berenang yang luas dan dalam. Selain itu, keindahan koi terletak pada punggungnya yang kaya warna, sehingga bila dipelihara dalam aquarium keelokan tubuh dan warnanya itu tidak terekspos secara maksimal.

Ukuran kolam koi yang dianjurkan minimal memiliki luas 1,5x2m dengan kedalaman 80 sampai 150cm. Jika kolam telalu dangkal, tubuh koi akan terus-menerus terkena sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh sinar matahari. Sinar ini dapat warna tubuhnya menjadi pucat, dan pertumbuhannya pun bisa terhambat.

Perlu diperhatikan pula tinggi kolam minimal 25cm dari bibir kolam untuk mencegah koi melompat ke daratan. Selain itu kolam juga harus dilengkapi saluran pembuangan di bagian bawah kolam. Di bagian atas kolam juga dipasang pipa untuk menyalurkan air bersih yang sudah diendapkan.

* Kolam Pemijahan

Kolam pemijahan tidak mungkin menjadi satu dengan kolam taman. Kolam pemijahan harus mempunyai pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air tersendiri.Selain itu, seluruh kolam harus diplester dan bisa dikeringkan dengan sempurna.

Luas kolam pemijahan bervariasi. Untuk kolam sempit dapat menggunakan kolam seluas 3-6 m2 dengan kedalaman 0,5 m. Lokasi kolam cukup mendapatkan sinar matahari, tidak terlalu ribut, terlindung dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan lain.

Jika mungkin, sediakan juga kolam penetasan telur dan perawatan benih. Kolam penetasan, bentuknya bisa persegi panjang atau bulat. Kalau kolam bulat, diameternya antara 1,5-2 m.

Satu kolam lagi jika ada, yaitu kolam untuk menumbuhkan pakan alami yang dipakai untuk lmensuplai pakan benih jika kuning telurnya telah habis. Kedalaman kolam sekitar 30 cm. Luas kolam antara 6-10 m2, cukup memadai.

Bagi yang memiliki uang cukup, dinding kolam bisa dilapis vinil yaitu bahan yang biasa untuk membuat bak fiberglass. Dengan lapisan vinil, kolam-kolam tersebut lebih terjamin kebersihannya dan efek dari semen bisa dihilangkan.

Menjaga Kualitas Air

Filter empat lapis juga perlu dipasang untuk menjaga kebersihan dan kelancaran pasokan air. Filter empat lapis adalah filter yang terdiri dari filter pertama yang terdiri dari kerikil, pasir, dan ijuk yang berfungsi menyaring sampah dan Lumpur yang mengotori kolam.

Filter kedua berupa karbon zeolit yang berfungsi menghilangkan racun, bau tak sedap, dan membunuh bibit penyakit. Filter ketiga berupa pestisida yang tak mematikan bakteri pengurai yang berperan dalam proses penjernihan air kolam. Sedangkan filter keempat berupa tanaman atau bebatuan yang dapat mengikat kotoran.

Derajat keasaman (pH) air yang cocok untuk pertumbuhan koi adalah 6,5-8,5. Untuk menjaga sirkulasi air bisa dipasang pompa yang mampu menyalurkan air sebanyak 25 liter per menit. Dengan cara ini, air kolam tak perlu sering dibrsihkan, tapi yang perlu dilakukan adalah membersihkan filter dan bak filter. Caranya, semprot filter dengan air bersih sekitar 5-10 menit lamanya.

Bila menggunakan penyaring ini, sebaiknya penggantian air dilakukan dua minggu sekali. Tujuannya untuk membuang zat-zat racun dari sisa-sisa makanan yang terurai menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan ikan koi.

Pemberian Pakan

Pakan berfungsi selain untuk membantu pembentukan tubuh ideal dan mencemerlangkan warna pada ikan koi, juga sebagai media perantara untuk mengobati ikan koi yang sakit. Jenis pakan yang diberikan bisa berupa pakan alami atau pakan pakan buatan. Yang terpenting pakan tersebut mengandung gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan ikan koi. Pakan sebaiknya diberikan dua kali sehari, pagi dan sore agar kebutuhan gizi ikan koi terpenuhi.

Jenis pakan yang digunakan untuk memacu pertumbuhan ikan koi agar tubuhnya ideal dengan bentuk tubuh gemuk dan memanjang adalah wheat germ. Pakan terbuat dari bahan yang mengandung protein tinggi seperti, gandum, tepung udang, tepung ikan, dan bungkil kacang kedelai.

Kandungan proteinnya sekitar 32%. Selain itu wheat germ juga mengandung vitamin A,D,E,K,B2,B6,B12, niasin, vitamin C dan unsur-unsur mineral lain seperti kalsium, choline chloride, panthetonate, trace mineral, dan antioksidan.

Sementara, pakan untuk mencemerlangkan dan mempertajam warna koi adalah pakan yang mengandung zat karoten. Zat tersebut dapat merangsang munculnya warna pada ikan koi. Secara alami di dalam tubuh ikan koi terdapat zat karoten berupa antaxanthin yang menghasilkan warna merah, dan lutein yang menciptakan warna kuning kehijauan.

Pakan yang mengandung zat karoten diantaranya; wortel, alga atau ganggang Spirullina, dan Chlorella, semangka, sawi, kubis dan cabai hijau. Sedangkan pakan dari hewan bisa diberikan dapat kepiting, udang-udangan, krill, trout, salmon, kutu air, jentik nyamuk, cacing rambut, dan cacing

sumber : http://peluangusaha-oke.com/cara-budidaya-dan-merawat-ikan-koi/

By alsaprudin

Fishing Techniques Tuna Purse Seining


 
 
 
 
Main Components
Aquatic species
 
 
Purse seines
Purse seines

A purse seine is made of a long wall of netting framed with a lead line of equal or longer length than the float line.

Vessel types: Tuna purse seiners
Tuna purse seiner
Tuna purse seiner

These vessels are large purse seiners with the same general arrangement as the American seiner, equipped to handle large and heavy purse seines for tuna.

 
Characteristics
Tuna purseiningDrawing of tuna purse seining fishing operation
Tuna purseining
OverviewTuna purse seining involves surrounding tuna shools with a net, impounding the fish by pursing the net, and drying up the catch by hauling the net so that the fish are crowded in the bunt and can then be brailed out. Species EnvironmentAs the purse seine catches fish above the thermocline, fish tuna and tuna-like fish inhabit in the surface and sub-surface zone (mixing area) are the target of this technique. They are, in tropical waters, juvenile yellowfin, juvenile bigeye and skipjack, together with some small tuna-like fish such as frigate tunas, bonitos, etc. Those fish are generally feeding baitfish near surface. In temperate waters, they catch either small juvenile bluefin tuna when they are feeding on baitfish or large bluefin tuna while they surface for spawning activities. Also in temperate waters, purse seine is occasionally used to harvest albacore, generally during night when fish come to surface for feeding.Fishing GearThe industrial purse seine gear is a large net which is used to encircle the school of tunas and closed at the bottom to entrap them. The synthetic net measures 1 500 to 2 000 m long and 120 to 250 m depth. The size of the mesh is usually around 120 mm stretched mesh. The top of the net is mounted on a floatline and the bottom on a leadline which, usually consists of a steel chain with steel rings, known as “purse rings”, are attached below the chain; the purse line which run through the purse rings is made of steel and allow the pursing of the net. There are smaller purse seine gears used for less industrialized fishing near coastal areas, mostly targeting small tuna-like fish, such as frigate tunas, and bonitos. Those fishing is seasonal and the same gear is used for other pelagics such as sardine and anchovies.Vessel OverviewTuna purse seiners vary considerably in size. Industrial tuna purse seiners are usually large vessels which length ranges between 45 and 85 m, sometimes over (up to 100-110 m). Those seiners are facilitated with a large skiff, often with a few speed boats, and with a helicopter. Also equipped with a brine freezing fish wells. In coastal areas, smaller purse seiners also operate, sometimes on juvenile tuna species or tuna-like fish. The same boats are multi-purpose, including fishing for small pelagics (sardine, jacks, mackerels etc.) and seasonally fish for tunas. The size varies from 20 to 50 meters. All purse seiners are equipped with a power block to purse the lead line after fish are inside of the net. In some area, paired seiners were used of the size of about 300 to 400 GT. But this fishing methods has been reduced if still exist.Handling ModeStorage of tuna once it is caught presents a problem, for the size of the fish is large. Some vessels are equipped to bulk-freeze the catch, but the commonest method is to keep the fish in refrigerated brine tanks (brine at 0 °C), which form much of the lower parts of the hull and are equipped with batteries of seawater pumps for circulation. In the industrialized purse seiners, the tunas are preserved in wells of 20 to 40 metric tonnes each, (total 800 to 2 000 metric tonnes) with brine freezing at -20 °C. In the more artisanal purse seiners, tuna are generally kept in iced seawater.Fishing EnvironmentIn general the tuna purse seines are used to capture (large pelagic) fish aggregated and swimming not too far from the surface (mixing zone above thermocline) in the high-sea waters, as well as in the near coast waters. Aggregated resources up to a maximum of 300 m depth, but practically at depth less than almost 150 m depth and mostly less than 60-70 m are targeted.Fishing OperationsThe fishing operations realized by a purse seinerto catch tuna, from the beginning of the shooting of the net up to the end of the hauling, back on board of the seine (ready for a new shooting), are called a “set”. There have been so-called dolphin set, in which case the net is set and fish schools associated with certain species of dolphins are herded into the net using 2-3 speed boats. When the school is inside of the net, the end of the net is closed and the bottom is pursed.
1. When a school is detected, the vessel places itself on the right side of the school (most of the tuna purse seiners have deck arrangement for operating from the left side, but not all the vessels have the same). For the correct positioning of the vessel versus the fish school, the direct observation from the crows nest, at the top of the mast, is essential (as it was also before for the detection/location of fish from signs at or over the surface of the sea, including seabirds). The skiff, a highly powered annex, attached to one extremity of the purse seine and having one extremity of the purse line cable (whereas the other extremity of this cable is attached to the winch on the purse seiner) which is kept on the top of the net at the sloped part of the stern of the vessel, is released.
2. The vessel then encircles the school at maximum speed. Usually, all the purse seine is set and the circle is closed within 4 to 8 minutes. In the Mediterranean Sea, purse seiners fishing northern bluefin tuna often do not shoot all the length of the seine and close the circle with only a portion of the net. At this time, tunas can change their direction and escape before the circle is closed. In the eastern Pacific Ocean, purse seiners often set on tuna school associated with certain species of dolphins. In this so-called dolphin set, the net is set across the direction where the school is moving towards and fish schools associated with dolphins are herded into the net using 3 to 5 speed boats. When the school is inside of the net, the end of the net is closed and the bottom is pursed. In the last several years, the use of fish aggregating devices (FAD) is getting very popular in all the oceans. Each vessel set several FADs in the ocean with radio buey to locate it. Some of them even have fish detecting device and transmit the information of the conditions gathering the fish under the device to the fishing vessels. When enough fish are gathered, the boat sets the net around the FAD to catch everything under. Frequently drifting baitboats are used in place of FADs.
3. Once the encirclement is finished, the extremity of the net that stayed attached to the skiff is transferred aboard the purse seiner and the two extremities of the purse line cable are hauled with the winch as quickly as possible in order to close the net at its bottom (this is called “pursing” because it is similar to pulling the draw string of an old-fashioned purse). It is worth observing that, until the purse seine is not closed, the tunas can still dive below the net or the purse seine vessel and escape. If the net stays from the surface all the way down to the thermocline, the chance of fish escape from the bottom would be minimal. During the pursing, and especially when there is current, in order to prevent the purse seiner from drifting over the net, the skiff is attached to the starboard side of the vessel and pulls it away from the net. In the Eastern Central Pacific area, when the set is made on the school associated with dolphins, a special operation, known as the “backdown operation” is realized at this time in order to let a par of the float line submerge in the water so that dolphins having been trapped in the purse seine can be released through that section. Speed boats are used to hep release operation. The pursing may take for large purse seines around 15 to 20 minutes.
4. The net is then pulled aboard the purse seiner with ahydraulic power block which is, on board industrial purse seiners, attached to the end of the boom and hanging above the deck, on medium size vessels operated at the extremity of a crane fixed on the deck at the aft part. Under the power block, the net is stacked on the stern of the boat by fishermen in such a way that it will come smoothly off the stern at the beginning of the next set. As a whole, this operation will, if there is no incident, take around one hour (minor incidents are not uncommon during the fishing operation) or even longer, depending on the size of the net and catch.
5. When most of the purse seine has been retrieved, the tunas have been grouped within a restricted area along the portside of the vessel. Then the fish are harvested from the purse seine using a large scoopnet called the “brailer” (brailing operation); several tonnes of fish are taken on board each time. The duration of this operation will obviously depend upon the quantity of fish in the net. In the bluefin tuna fishing in the Mediterranean Sea, and southern bluefin tuna fishing off Australia, the pursing is stopped a half way, where the fish are not yet so much aggregated. This is to keep the fish well alive, as most of the live fish caught are transferred to transport cage for tuna farming.
6. The tunas go towards fish-wells through trays and tubes arranged in the deck. In the fish-well fish are in brine which cools the fish without delay and freeze it for long conservation at -20 °C or even lower.

Fishery Production SystemsPurse seining for tuna is a fishing technique used all around the world by the industrial and semi-industrial fleets of several countries.Fishery OverviewThe industrial fleets worldwide have become increasingly mobile, with vessels changing ocean areas in reponse to changing catch rates, market prices and operating costs. These movements are typical for super seiners which for example, after a successful fishing season in the west Indian Ocean, can return to the eastern Atlantic Ocean to continue fishing off the West African coast, or to the Pacific and the east Indian ocean to fish off Japan or in the EEZ waters of the Pacific island nations. The introduction of the extended economic zones (EEZs), confronted the tuna fishery with the necessity of purchasing fishing rights. Access to some of the EEZs had been free, but now had to be paid for.
Fishery OverviewPacific Ocean
Several Latin American countries started developing tuna fleets, either their own or flying their national flags, to fish the Eastern Pacific tunas. This development has apparently been motivated by the proclamation of the 200 mile EEZs and possibly by a series of conservation and labour regulations imposed on vessels flying the US flag. Among these countries are Peru, Chile, Ecuador, Panama, Venezuela and Mexico. Perhaps the most modern fleet of tuna purse seiners in the Eastern Pacific Ocean is that of Mexico, where in the late 1970s a large investment was made on the development of this fleet. The US tuna purse seine fishery had developed exclusively in the eastern Pacific. Many tuna fisheries are present in Central and west Pacific Ocean. The US tuna purse seine fishery had developed exclusively in the eastern Pacific. But the 1970s and 1980s it had expanded all over the Pacific. However the use of traditional California tuna purse seines for skipjack fishing in the central and western Pacific was not an unqualified success. Japanese purse seiners fishing long, deep and light weight purse seines outfished many American seiners. Giant seines with length of 2 000 m and more have been used by Japanese tuna purse seiners in the western Pacific Ocean. With the development and increasing sophistication of fishing with FADs the need for such huge nets has diminished and the more conventional net is now about 1 600 m long and 300 m deep. The Spanish fleet composed by large sized vessels is distributed among Pacific Ocean, Eastern and Central Atlantic. The tuna purse seining fleet of France was developed during the 1960s and nowdays is operating in Southern Pacific. At the same time Taiwanese and South Korean seiners began vigorous operations in the south west Pacific waters. In the Philippines, tuna fisheries have achieved a remarkable rate of development during the 1970s and 1980s, partly as a result of the successful introduction of large-scale purse seining operations in association with FADs and log fishing. In this country most of the purse seine industry is based on a combined use of FADs of steel or bamboo construction and light attraction techniques. The method combines indigenous (FAD and light attraction) and modern (mechanized purse seining) technologies, which when operated separately would not be as productive. The FADs are set in ocean waters from 20 to 60 miles offshore and some 7 miles apart.

Indian Ocean
Before 1979 tuna was fished in the Indian Ocean mainly with longlines and pole and lines, but purse seining for tuna expanded considerably during the first half of the 1980s. The bulk of the catch is composed of more or less equal amounts of yellowfin and skipjack tuna. A large proportion of the catch is taken by vessels from outside the region. French and Spanish fleets for example, alternate their operation between the area of Seychelles and the Atlantic Ocean, depending on the prospects. As result of theses changes and trends, several new countries fishing in the Indian Ocean, such as Thailand, Philippines, Indonesia, India, Sri Lanka, Seychelles, Maldives, are developing their own tuna fleets and processing industries.

Atlantic Ocean
Since 1948 Norwegian fishermen have fished bluefin tuna with purse seines in North Atlantic.This is a seasonal summer fishery which depends on the annual feeding migrations of the fish from the Mediterranean. In tropical Atlantic, Eastern and Central Atlantic some West African ports became important bases for the distant water tuna fleets. In addition to the tuna pole and line and longline vessel, tens of Spanish, French, Ivorian Coast, American (USA), Mexican, Japanese, Russian and other large purse seiners use facilities and deliver fish to markets and canneries at Dakar, Abidjan, Tenerife, Cape Verde Islands at the east side, and in Puerto Rico, Venezuela and other American countries at the west side of the Atlantic. Other participants in the West African purse seine tuna fisheries are Ghana, Senegal and Republic of Congo. Russia and the USA, in addition to direct operations, have joint ventures at both sides of Atlantic. Relative newcomers are Venezuela, Panama and Mexico, with fleets fishing also in the eastern Pacific.

Mediterranean Sea
Vessels operating in the Mediterranean Sea from Algeria, France, Greece, Italy, Malta, Spain, Morocco, and Turkey are very specific and they can be classified as Mediterranean purse seiners. These are medium sized vessels, the largests not exceeding 45 m in length. Aboard these vessels the traditional mast with aft-facing derricks has been replaced with a hydraulic crane. In the case of the purse seine used in the Mediterranean Sea to catch northern bluefin tuna, the mesh in the body and the bottom part of the net are slightly larger (up to 200 mm) while in the bunt the meshes are around 120 mm. The northern bluefin tuna are fished following their migrational patterns particularly in the Western Mediterranean (Tyirrhenian, Ligurian, the Strait of Sicily, Aegean, Marmarra).Tuna are identified by using airplanes which transmit by radio to the fishing vessels the exact position of the fish schools.IssuesEnvironmental Since catching performance of purse seine are not very selective (in terms of both species and sizes of fish) there could be important by-catch of non-targeted species or very small fish of target species. This is particularly true when the set Is made with FAD (fish aggregating device). However, the impact of such catches on stocks has to be carefully evaluated. For example, by-catching frigate tuna may have no impact on that resource as the stock size is huge and the species is not fully commercially utilized. On the other hand, by-catching small bigeye tuna definitely reduces the yield per recruit of that stock. Every effort has been taken to reduce or avoid incidental mortality of dolphins by large tuna purse seiners fishing in eastern Pacific. Special techniques have been developed to reduce by-catch of dolphins; a “Medina panel” included as part of the seine used in conjunction with a “back down” manoeuvre proved to be a very effective method, which secure that encircled dolphins are released alive.Discard Possible incidental catches of species such as certain sharks or turtlesare also worth mentioning in certain areas. However, it has been found that most of the sea turtles in the net are alive and released to the sea before the net is pursed. Pursing may entangle the turtle on the net and may cause mortality. Most of the sharks are pelagic species and not endangered. The increasingly used practice of encircling floating objects, including man-made FADs increases the capture of small sized and immature fish aggregating around such devices.Source of information

M. Ben-Yami 1994 “Purse seining manual” FAO and Fishing News Books Ltd.
By alsaprudin

Sejarah Kelembagaan Kelautan Indonesia


 

Masa penjajahan Belanda hingga awal kemerdekaan

Periode 1850-1966 adalah periode pelembagaan institusi-institusi yang menangani urusan masyarakat bagi pemapanan penjajahan Belanda atas negeri Indonesia. Begitu pula halnya dengan urusan-urusan masyarakat pantai yang menyandarkan kegiatan ekonomi pada bidang kelautan. Pengembangan kelautan dimulai pada 1911 dengan dibentuknya Bugerlijk Openbare Werken yang berubah menjadi Departemen Verkeer en Waterstaat pada 1931. Kurun waktu hingga kemerdekaan tercapai, merupakan fase pasang surut pertumbuhan organisasi kelautan dalam struktur pemerintahan kolonial maupun Republik Indonesia merdeka. Unit-unit warisan kolonial Belanda inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan kementerian yang mengelola aspek kelautan pada masa sekarang.

Lembaga yang menangani kegiatan-kegiatan perikanan semasa pemerintahan kolonial Belanda masih berada dalam lingkup Departemen van Landbouw, Nijverheid en handel yang kemudian berubah menjadi Departemen van Ekonomische Zaken. Kegiatan-kegiatan perikanan masa itu digolongkan sebagai kegiatan pertanian. Meski demikian, terdapat suatu organisasi khusus yang mengurusi kegiatan perikanan laut di bawah Departemen van Ekonomische Zaken. Organisasi tersebut adalah Onderafdeling Zee Visserij dari Afdeling Cooperatie en Binnenlandsche Handel. Sedangkan untuk menyediakan kegiatan penelitian dan pengembangan perikanan laut terdapat suatu institut penelitian pemerintah kolonial yang bernama Institut voor de Zee Visserij. Pada masa ini juga telah ditetapkan UU Ordonansi tentang batas laut Hindia Belanda melalui Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939, yang menetapkan bahwa lebar laut wilayah Hindia Belanda ditetapkan pada masing-masing pulau sampai sejauh 3 mil.

Semasa pendudukan Jepang 1942-1945, Departemen van Ekonomische Zaken berubah nama menjadi Gunseikanbu Sangyogu. Fungsi dan tugas departemen ini tidak berubah dari fungsinya di zaman kolonial. Begitu pula halnya dengan lembaga penelitian dan pengembangan, meski berubah nama menjadi Kaiyoo Gyogyo Kenkyuzo dan berpusat di Jakarta tidak mengalami perubahan fungsi. Bahkan, UU tentang batas laut pun tidak mengalami perubahan. Namun yang perlu dicatat justru adalah pada masa pendudukan Jepang ini terjadi perluasan lembaga-lembaga perikanan pemerintah. Pada masa ini, di daerah-daerah dibentuk jawatan penerangan perikanan yang disebut Suisan Shidozo. Di samping itu, pada masa ini terjadi penyatuan perikanan darat dengan perikanan laut, walaupun tetap dimasukkan dalam kegiatan pertanian.

Masa awal kemerdekaan sampai orde lama

Setelah proklamasi kemerdekaan nasional, pada kabinet presidensial pertama, pemerintah membentuk Kementerian Kemakmuran Rakyat dengan menterinya Mr. Syafruddin Prawiranegara. Pada kementerian ini dibentuk Jawatan Perikanan yang mengurusi kegiatan-kegiatan perikanan darat dan laut. Semenjak kabinet pertama terbentuk pada 2 September 1945 hingga terbentuknya kabinet parlementer ketiga pada 3 Juli 1947, Jawatan Perikanan tetap berada di bawah Koordinator Pertanian, di samping Koordinator Perdagangan dan Koordinator Perindustrian dalam Kementerian Kemakmuran Rakyat. Meskipun kemudian Kementerian Kemakmuran Rakyat mengalami perubahan struktur organisasi akibat agresi militer Belanda I dan II serta perpindahan ibukota negara ke Yogyakarta, jawatan perikanan tetap menjadi subordinat pertanian. Pada masa itu, tepatnya 1 Januari 1948, Kementerian Kemakmuran Rakyat mengalami restrukturisasi dengan menghapus koordinator-koordinator. Sebagai gantinya, ditunjuk lima pegawai tinggi di bawah menteri, yakni Pegawai Tinggi Urusan Perdagangan, Urusan Pertanian dan Kehewanan, Urusan Perkebunan dan Kehutanan, serta Urusan Pendidikan. Jawatan Perikanan menjadi bagian dari Urusan Pertanian dan Kehewanan.

Pada masa pengakuan Kedaulatan RI 27 Desember 1949, Kementerian Kemakmuran Rakyat kemudian dipecah menjadi dua kementerian, yaitu Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dan Perindustrian. Pada masa itulah Jawatan Perikanan masuk ke dalam Kementerian Pertanian. Kementerian Pertanian pada 17 Maret 1951 mengalami perubahan susunan, yakni penunjukan 3 koordinator yang menangani masalah Pertanian, Perkebunan dan Kehewanan. Di bawah Koordinator Pertanian, dibentuk Jawatan Pertanian Rakyat. Jawatan Perikanan pada masa itu telah berkembang menjadi Jawatan Perikanan Laut, Kantor Perikanan Darat, Balai Penyelidikan Perikanan Darat, dan Yayasan Perikanan Laut. Kesemua jawatan tersebut berada di bawah Jawatan Pertanian Rakyat. Struktur ini tidak bertahan lama. Pada 9 April 1957, susunan Kementrian Pertanian mengalami perubahan lagi dengan dibentuknya Direktorat Perikanan dan di bawah direktorat tersebut jawatan-jawatan perikanan dikoordinasikan.

Jatuh bangunnya kabinet semasa pemerintahan parlementer mengakibatkan Presiden Soekarno menganggap bahwa sistem parlementer tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Pada 5 Juli 1957, presiden mengeluarkan dekret untuk kembali pada UUD 1945. Istilah kementerian pada masa sebelum dekrit berubah menjadi departemen dan posisi istilah direktorat kembali menjadi jawatan. Pada 1962, terjadi penggabungan Departemen Pertanian dan Departemen Agraria dan istilah direktorat digunakan kembali. Pada masa kabinet presidensial paska dekret, Direktorat Perikanan telah mengalami perkembangan menjadi beberapa jawatan, yakni Jawatan Perikanan Darat, Perikanan Laut, Lembaga Penelitian Perikanan Laut, Lembaga Penelitian Perikanan Darat, Lembaga Pendidikan Usaha Perikanan dan BPU Perikani.

Kondisi politik dan keamanan yang belum stabil mengakibatkan pemerintah merombak kembali susunan kabinet dan terbentuklah Kabinet Dwikora pada 1964. Pada Kabinet Dwikora ini, Departemen Pertanian mengalami dekonstruksi menjadi 5 buah departemen dan pada kabinet ini terbentuk Departemen Perikanan Darat/Laut di bawah Kompartemen Pertanian dan Agraria. Pembentukan Departemen Perikanan Darat/Laut merupakan respon pemerintah atas hasil Musyawarah Nelayan I yang menghasilkan rekomendasi perlunya departemen khusus yang menangani pemikiran dan pengurusan usaha meningkatkan pembangunan perikanan. Melalui pembentukan Kabinet Dwikora yang Disempurnakan, Departemen Perikanan Darat/Laut tidak lagi di bawah Kompartemen Pertanian dan Agraria melainkan mengalami reposisi dan bernaung di bawah Kompartemen Maritim. Di bawah Kompartemen baru, departemen tersebut mengalami perubahan nama menjadi Departemen Perikanan dan Pengelolaan Kekayaan Laut. Keadaan ini tidak berlangsung lama, pada 1965 terjadi pemberontakan Gerakan 30 September dan Kabinet Dwikora diganti dengan Kabinet Ampera I pada 1966.

Masa Reformasi

Sejak era reformasi bergulir di tengah percaturan politik Indonesia, sejak itu pula perubahan kehidupan mendasar berkembang di hampir seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti merebaknya beragam krisis yang melanda Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satunya adalah berkaitan dengan Orientasi Pembangunan. Di masa Orde Baru, orientasi pembangunan masih terkonsentrasi pada wilayah daratan.

Sektor kelautan dapat dikatakan hampir tak tersentuh, meski kenyataannya sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam, baik jenis dan potensinya. Potensi sumber daya tersebut terdiri dari sumber daya yang dapat diperbaharui, seperti sumber daya perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya laut dan pantai, energi non konvensional dan energi serta sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral. Selain dua jenis sumber daya tersebut, juga terdapat berbagai macam jasa lingkungan lautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan kelautan dan perikanan seperti pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan dan sebagainya. Tentunya inilah yang mendasari Presiden Abdurrahman Wahid dengan Keputusan Presiden No.355/M Tahun 1999 tanggal 26 Oktober 1999 dalam Kabinet Periode 1999-2004 mengangkat Ir. Sarwono Kusumaatmaja sebagai Menteri Eksplorasi Laut.

Selanjutnya pengangkatan tersebut diikuti dengan pembentukan Departemen Eksplorasi Laut (DEL) beserta rincian tugas dan fungsinya melalui Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen. Ternyata penggunaan nomenklatur DEL tidak berlangsung lama karena berdasarkan usulan DPR dan berbagai pihak, telah dilakukan perubahan penyebutan dari Menteri Eksplorasi Laut menjadi Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 145 Tahun 1999 tanggal 1 Desember 1999. Perubahan ini ditindaklanjuti dengan penggantian nomenklatur DEL menjadi Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (DELP) melalui Keputusan Presiden Nomor 147 Tahun 1999 tanggal 1 Desember 1999.

Dalam perkembangan selanjutnya, telah terjadi perombakan susunan kabinet setelah Sidang Tahunan MPR tahun 2000, dan terjadi perubahan nomenklatur DELP menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sesuai Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Wewenang, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen.

Kemudian berubah menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Peraturan Presiden No. 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, maka Nomenklatur Departemen Kelautan dan Perikanan menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan, sedangkan struktur organisasi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak mengalami perubahan.

Struktur Organisasi

Saat berupa Departemen

Dalam rangka menindaklanjuti Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000, pada November 2000 telah dilakukan penyempurnaan organisasi DKP. Pada akhir tahun 2000, diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 177 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi dan Tugas Departemen, di mana organisasi DKP yang baru menjadi:

  1. Menteri Kelautan dan Perikanan
  2. Sekretaris Jenderal
  3. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
  4. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
  5. Direktorat Jenderal Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
  6. Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran
  7. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
  8. Inspektorat Jenderal
  9. Badan Riset Kelautan dan Perikanan
  10. Staf Ahli

Saat berstatus Kementerian

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Preaturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006, maka struktur organisasi KKP menjadi:

  1. Menteri Kelautan dan Perikanan
  2. Sekretaris Jenderal
  3. Inspektorat Jenderal
  4. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
  5. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
  6. Direktorat Jenderal Pengawasan & Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
  7. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
  8. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  9. Badan Riset Kelautan dan Perikanan
  10. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
  11. Staf Ahli

Alasan pembentukan kementerian

Tebentuknya Kementrian Kelautan dan Perikanan pada dasarnya merupakan sebuah tantangan, sekaligus peluang bagi pengembangan sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Artinya, bagaimana KKP ini menempatkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu sektor andalan yang mampu mengantarkan Bangsa Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Setidaknya ada beberapa alasan pokok yang mendasarinya:

  • Pertama, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.508 dan garis pantai sepanjang 81.000 km tidak hanya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tetapi juga menyimpan kekayaan sumberdaya alam laut yang besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.
  • Kedua, selama beberapa dasawarsa, orientasi pembangunan negara ini lebih mangarah ke darat, mengakibatkan sumberdaya daratan terkuras. Oleh karena itu wajar jika sumberdaya laut dan perikanan tumbuh ke depan.
  • Ketiga, dikaitkan dengan laju pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran manusia terhadap arti penting produk perikanan dan kelautan bagi kesehatan dan kecerdasan manusia, sangat diyakini masih dapat meningkatkan produk perikanan dan kelautan pada masa datang. Keempat, kawasan pesisir dan lautan yang dinamis tidak hanya memiliki potensi sumberdaya, tetapi juga memiliki potensi bagi pengembangan berbagai aktivitas pembangunan yang bersifat ekstrasi seperti industri, pemukiman, konservasi dan lain sebagainya.

    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Kelautan_dan_Perikanan_Indonesia

By alsaprudin

Dunia Perikanan


SIARAN PERS
“RUMAH BARU” UNTUK IKAN
17/09/2012 – Kategori : Siaran Pers
No. B.123/PDSI/HM.310/IX/2012
Siaran Pers
“RUMAH BARU” UNTUK IKAN

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo berpesan agar kawasan konservasi perairan dikelola secara efektif dan berkelanjutan, saat membuka acara penenggelaman kapal untuk konservasi terumbu karang di Desa Kubu, Karangasem, Provinsi Bali, Senin (17/9). Ia menambahkan bahwa penenggelaman kapal merupakah upaya kita membangun “rumah baru” untuk ikan di sekitar kawasan tersebut sehingga dapat menjaga kelesetarian sumberdaya ikan di kawasan tersebut. Kawasan konservasi perairan Indonesia saat ini telah mencapai 15, 78 juta hektar dari target yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020.

Kapal bernama Prambuan milik Ditjen Perhubungan Laut yang ditenggelamkan sekitar 200 meter dari bibir pantai Perairan Tulamben, Karangasem diharapkan menjadi ruang hidup baru bagi terumbu karang dimasa depan. Kapal buatan tahun 1952 tersebut mempunyai dimensi panjang 87 meter dan lebar 7 meter.

Menurut Sharif upaya pengembangan kawasan konservasi, selain untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan juga diarahkan untuk mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di wilayah tersebut, antara lain melalui pengembangan pariwisata bahari, yang pada akhirnya diharapkan akan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Pada kesempatan tersebut Sharif juga menyampaikan bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) senilai Rp4,66 milyar untuk pengembangan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, juga untuk pengembangan usaha garam rakyat.

Jakarta, 16 September 2012

Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi

Indra Sakti, S.E., M.M
sumber :http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/8199/RUMAH-BARU-UNTUK-IKAN/?c=Siaran-Pers&category_id=34

Avertebrata Akuatik( Rhithrogena morrisoni)


Tugas Terstruktur
Avertebrata Akuatik
Rhithrogena morrisoni

Disusun oleh :
Saprudin H1H011004

Kelas :B

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2012
Tugas Terstruktur
Avertebrata Akuatik
Sungai : Logawa
Desa : Karanglewas Purwokerto
Tanggal : 13 April 2012
Pukul : 11.00
Garis Lintang : -7.550 LS
Garis Bujur : 109.140 BT
Ketinggian : 48 m
Sungai Logawa

Sungai Logawa
5 April 2012 ,Pukul 11.16 WIB

Rhithrogena morrisoni
Rhithrogena morrisoni
13 April 2012, Pukul 17.46 WIB
Sumber : http://www.troutnut.com
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Ephemeroptera
Family : Heptageniidae
Genus : Rhithrogena
Spesies : Rhithrogena morrisoni (Banks, 1924).

Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera fauna of Churchill (Manitoba,Canada): insights into biodiversity patterns fromDNA barcoding
Rangkuman
– Spesies serangga air berdasarkan tahapan kehidupan morfologis varian,biasanya jantan dewasa ,dengan beberapa pengecualian, misalnya, dalam beberapa lalat capung. Identifikasi betina dan tahap belum dewasa sering tidak mungkin, meskipun larva lalat capung sering lebih mudah diidentifikasi.Namun demikian,betina berkontribusi sedikitnya ½ dari populasi orang dewasa, dan bentuk dewasa biasanya tahap dominan di dalam air.
– Metode untuk mengidentifikasi Ephemeroptera (lalat capung), Plecoptera (stoneflies),
Trichoptera (caddisflies) (EPT), dan Odonata (drag-onflies dan damselflies) menggunakan metode Global DNA barcode.
– Nama-nama spesies berdasarkan morfologi digunakan untuk semua garis keturunan, bahkan mereka dengan mendalam perbedaan genetik.
– Habitat perairan di Churchill dikategorikan menjadi 3 jenis yaitu, kolam, anak sungai, dan Sungai Churchill.
– DNA barcode dari Ephemeroptera, Plecoptera,dan Trichoptera di Churchill telah terbukti efektif dalam mengidentifikasi spesies, mendeteksi taksa langka, menunjukkan spesies yang potensial, dan mendokumentasikan keanekaragaman.
Daftar Pustaka
Zhou,xin dkk, 2010, Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera fauna of Churchill
(Manitoba, Canada): insights into biodiversity patterns fromDNA barcoding,vol.
29,hal.814-837.
Do Karst Rivers “deserve” their own biotic index? A ten years study on macrozoobenthos in Croatia
Rangkuman
– Sungai Karst di kroasia adalah satu sangat penting bagian dari Dinaric karst kecuali investigasi dari macrozoobenthos komunitas kebanyakan pada sungai kontinental.
– Mutu air dari sungai karst di Kroasia adalah diukur kebanyakan mempergunakan Biotic Indexing.
– Sungai karst dikrosia, yang paling banyak bentik dari ordo ephemeroptera diantaranya spesies Ephemerella ignita,Heptagenia sulphurea,Rhithrogena sp. dan serangga. Satu peningkatan berlimpah dari amphipods dan serangga diamati di musim semi dan musim panas.
– Kumpulan bentik macroinvertebrata bukan ditentukan oleh perubahan pada jenis dan availabilitas dari makanan, tapi perbedaan pada kemampuan dari jenis ditempatkan dan lingkungan di sekitar, terlepas dari lingkungan menentukan juga jenis dari makanan

Daftar Pustaka
Rada, buljana dan Sanja Pulja,2010, Do Karst Rivers “deserve” their own biotic index? A ten years study onmacrozoobenthos in Croatia,vol 39,hal.137-147.

Effect of Logging Activities on Water Quality and Benthic macroinvertebrate Assemblages of Madek River Basin, Kluang, Johor, Malaysia

Rangkuman
– Di Sungai Madek terdapat 2 taksonomi yaitu Ephemeroptera dan Trichoptera dirikan di stasiun ini. Ephemeroptera bahwa pada area penggolongan dari Potamanthus jenis, Pseudiron, Ephemerella dan Rhithrogena, sementara Trichoptera dari jenis Hydropsyche dan Macrostemum.
– Bentik macroinvertebrates, atau “benthos”, adalah hewan tanpa tulang belakang yang adalah lebih besar dibandingkan ½ milimeter dari ukuran.
– Kehidupan binatang ini pada batuan, kayu balok, endapan, puing dan tanaman akuatik
benthos termasuk binatang berkulit keras seperti udang sungai, moluska seperti pengapit dan siput, cacing akuatik dan bentuk belum dewasa dari serangga akuatik seperti stonefly dan nimfa serangga mayfly.
– Bentik macroinvertebrata adalah indikator baik dari kesehatan batas air karena mereka tinggal di dalam air sebagian, seluruh atau kebanyakan dari hidup mereka,
– Kekeruhan dari sungai adalah bergantung pada peristiwa curah hujan, dimana
selama periode angin monsoon menjadi lebih keruh dibandingkan dari musim kemarau karena akibat aliran permukaan dan erosi tanah.

Daftar Pustaka
Abas,ahmad , dkk, 2011, Effect of Logging Activities on Water Quality and Benthic macroinvertebrate Assemblages of Madek River Basin, Kluang, Johor, Malaysia, Vol. 15 (2) hal, 337 – 340.

Toward a DNA Taxonomy of Alpine Rhithrogena(Ephemeroptera: Heptageniidae) Using a Mixed Yule-Coalescent Analysis of Mitochondrial and Nuclear DNA

Rangkuman

– Rhithrogena dengan tiga ekor, mata pada jantan hampir berdekatan dengan bagian punggung, sedangkan yang betina dipisahkan oleh jarak sekitar sama dengan lebar mata
– Larva lalat capung dari Perairan Rhithrogena banyak (Ephemeroptera) menghuni lingkungan Alpine.
– DNA taksonomi yang dikembangkan di sini meletakkan dasar untuk revisi masa depan dari genus Rhithrogena.
– Taksonomi DNA dari Alpine Rhithrogena (Ephemeroptera: Heptageniidae) Menggunakan campuran Yule-coalescent Analisis DNA mitokondria dan nuklir.

Daftar Pustaka

Sartori,michel, dkk,2011, Toward a DNA Taxonomy of Alpine Rhithrogena(Ephemeroptera: Heptageniidae) Using a Mixed Yule-Coalescent Analysis of Mitochondrial and Nuclear DNA,vol.6,hal 1-11.

Bioassessment of Kordan Stream (Iran) Water Quality Using Macro-Zoobenthos Indices

Rangkuman:

– Pada bulan April-Mei jumlah (Ephemeroptera (Epeorus,Rhithrogena, Baetis dan Cloeon) Plecoptera (Chloroperla), Trichoptera (Hydropsychidae), dan Diptera (Athericidae, Simuliidae, Tabanidae). diamati selama musim dingin,jumlahnya akan melonjak kemudian akan berkurang dan banjir juga akan memepengaruhi jumlahnya.
– Bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah taksa dan jumlah individu antara situs hulu dan hilir.
– Jumlah family di ordo Ephemeroptera,Plecoptera, dan Trichoptera tidak berbeda jauh. Namun, di sungai Kordan, kekayaan spesies pada umumnya tinggi, serangga jauh lebih menonjol dari pada Oligochaeta.
– Kegiatan antropogenik tidak menghasilkan dampak negatif terhadap kumpulan makroinvertebrata bentik dalam aliran Kordan dan aliran ini dianggap baik dikondisi lingkungan di semua stasiun dari perspektif kualitas air sesuai dengan nilai-nilai HFBI serta
dalam hal biota sungai yaitu, komposisi makroinvertebrata bentik dan kondisi lingkungan dan spesifikasi habitat.
– Pada integritas biologis sekarang dari aliran ini, dalam hal kekayaan spesies dan
produktivitas relatif utuh dan umumnya dalam kondisi baik, bagian hilir akan
dipengaruhi oleh gangguan non point seperti kondisi kurang baik, degradasi habitat, deforestasi dan konstruksi. Akhirnya, berdasarkan kumpulan fauna, jika aliran ini dilindungi dari polusi dan lainnya.Faktor risiko ekologi maka bisa berfungsi sebagai unit keragaman ekologi di daerah itu dan menjadi dasar yang baikuntuk perbandingan masa depan.

Daftar Pustaka

Ramezani, Mehrazad,2011, Bioassessment of Kordan Stream (Iran) Water Quality Using
Macro-Zoobenthos Indices,Vol 3 ,Hal 127-134.

Sumber Web
http://www.troutnut.com,diakses Pukul 14.37 WIB, tanggal 28 April 2012
http://www.zipcodezoo.com/Animals/R/Rhithrogena_morrisoni/

By alsaprudin